Image

Salah satu metode penelitian sejarah adalah dengan sejarah lisan. Sejarah lisan berfungsi sebagai dokumentasi sejarah yang belum terungkap. Selain itu sejarah lisan juga membuka sisi lain sejarah yang masih simpang siur kejelasanya. Dikejar oleh waktu, para peneliti sejarah berlomba-lomba mengumpulkan data mengenai fakta sejarah berharap para sumber primer masih hidup dan dapat menceritakan kisah mereka agar dapat memperbanyak informasi mengenai fakta sejarah.

Buku ini menjadi semacam dokumentasi ingatan sosial korban yang selama ini tercerai di dalam kegelapan kebohongan. Kebanyakan korban ingin menentang ingatan sosial yang menganggap mereka sebagai setan dan pengkhianat. Mereka ingin mengungkapkan cerita bahwa mereka adalah orang baik, bermartabat, patriotik yang kemudian dikorbankan. Buku ini tidak lantas ingin menampilkan mereka sebagai malaikat, karena merekapun tidak ingin terlihat seperti itu. Mereka ditampilkan sebagai manusia, yang tidak lebih baik atau lebih buruk daripada manusia yang lain, yang tidak pantas diperlakukan seperti apa yang mereka alami. Prinsip para penyusun dan penulis buku ini sederhana saja: tak seorangpun, terlepas dari latar belakang dan masa lalunya, boleh diculik, disiksa, diperkosa, dipaksa bekerja tanpa upah, ditembak mati, dan dikubur dalam kuburan massal atau ditahan tanpa pengadilan atas alasan apapun.

Esai-esai sejarah lisan tentang pengalaman korban 65 yang terangkum dalam buku “Tahun yang Tak Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65, Esai-esai Sejarah Lisan” yang diterbitkan pada 2004 oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia bersama Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK).

Unduh bukunya dengan meng-klik “DOWNLOAD”